Monday, June 3, 2013

Hadits tentang Semua Bid’ah adalah Sesat

Untuk memahami al-Quran ataupun hadits, tidak bisa hanya dilihat secara parsial atau hanya melihat arti lahiriah sebuah teks. Ada banyak hal yang harus diperhatikan ketika membaca serta menafsirkan al-Qur’an atau al-Hadits. Misalnya kondisi masyarakat ketika ayat tersebut diturunkan. Termasuk pula meneliti teks tersebut dari aspek kebahasaannya, yakni dengan perangkat Ilmu Nahwu, Sharaf, Balagah, Mantiq , dan sebagainya.
Hadits yang sering dijadikan dasar pelarangan semua bid’ah itu adalah “Dari Abdulah bin Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, ”Ingatlah, berhati-hatilah kalian, jangan sampai membuat hal-hal yang baru (yang bertentangan dengan syara’). Karena perbuatan yang paling jelek adalah membuat-buat hal baru dalam masalah agama. Dan setiap perbuatan yang baru dibuat itu adalah bid’ah. Dan sesungguhnya semua bid’ah itu adalah sesat. (…………….wa kullu mukhdatsati bid’atun wa kullu bid’atin thalalatun).(Sunan Ibn Majah 45)
Dalam hal ini, Nabi SAW menggunakan kata kullu, yang secara tekstual diartikan seluruh atau semua. Sebenarnya, kata kullu tidak selamanya berarti keseluruhan atau semua. Namun, adakalanya berarti sebagian, seperti firman Allah SWT, ”Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air. (wa ja’alnaa minal maai kulla syay in haiyyin).” (Qs. Al-Anbiya, 30)
Walaupun ayat ini mengunakan kata kullu, namun tidak berarti semua benda yang ada di dunia ini diciptakan dari air. Buktinya adalah fiman Allah SWT, ”Dan Allah SWT menciptakan jin dari percikan api yang menyala.” (Qs. Al-Rahman, 15)
Contoh lain adalah firman Allah SWT :
Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu. (wa kaa na wa raa a hum malikun ya’ khudu kulla safiinatin ghosban)” (Qs. Al-Kahfi,79)
Ayat ini menjelaskan bahwa di hadapan Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS ada seorang raja lalim yang suka merampas perahu yang bagus. Sedangkan perahu yang jelek tidak diambil. Buktinya perahu yang ditumpangi kedua hamba pilihan itu dirusak oleh Nabi Khidir AS supaya tidak diambil oleh raja yang lalim tersebut. Kalau semua perahu dirampas, tentu Nabi Khidir AS tidak akan merusak bagian tertentu dari perahu yang mereka tumpangi. Hal ini juga menunjukkan bahwa tidak semua perahu dirampas oleh raja tersebut. Juga menjadi petunjuk bahwa kullu pada ayat itu tidak dapat diartikan keseluruhan, tetapi berarti sebagian saja, yakni perahu-perahu yang bagus saja yang dirampas.
Maka demikian pula dengan hadits tentang bid’ah itu. Walaupun menggunakan kata kullu, bukan berarti seluruh bid’ah dilarang. Karena yang terlarang adalah sebagian bid’ah saja, tidak semuanya. Ini bisa dibuktikan, karena ternyata para sahabat juga banyak melaksanakan perbuatan serta membuat kebijakan yang tidak pernah ada pada waktu Rasulullah SAW masih hidup. Misalnya usaha untuk membukukan al-Qur’an, menambah jumlah adzan menjadi dua kali pada hari Jum’at, shalat tarawih secara berjamaah, dan masih banyak lagi hasil ijtihad para sahabat yang ternyata tidak pernah ada pada masa Rasulullah SAW.
Nah, kalu kullu pada hadits itu diartikan keseluruhan, yang berarti semua bid’ah dilarang, berarti para sahabat telah melakukan dosa secara kolektif (bersama). Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, mengerjakan yang diperintah dan manjauhi segala larangan Allah SWT dan RasulNya. Bahkan diantara mereka sudah dijamin sebagai penghuni surga. Maka tidak mungkin kalau para sahabat Nabi SAW tidak mengetahui, apalagi tidak mengindahkan larangan dalam hadits itu.
Ini sebagai bukti nyata bahwa kata kullu yang ada pada hadits itu berarti sebagian, bukan keseluruhan. Karena itu tidak semua bid’ah dilarang. Yang dilarang adalah bid’ah yang secara nyata akan merusak ajaran agama Islam.

3 comments:

  1. jika sesuatu dtg dari Allah & RasulNya pastinya tdk akan ada perbedaan ataupun ayt yg satu melemahkan yg lain ataupun melemahkan hadist, kecuali jika hadist itu palsu atau penafsirannya dipaksakan beda.Tapi jika ia buatan manusia pastilah ada celahnya.dan akan selalu dipertentangkan.
    saya cuma mau komentar krn ada yg menganggap Qur'an skrg itu bid'ah hasanah.Bukankah dijaman rasul dia ada dipelepah kurma, kayu, batu dll?jd apa bedanya jika ia disalin ulang ke batu, kayu yg lain atau kertas?itu hy suatu cara selama tdk merubah isi dan syariat yg disampaikan.Ini dperkuat adanya hadist Janganlah kalian menulis (segala sesuatu) dariku, dan barangsiapa yang menulis dariku selain al-Qur`an, maka hendaklah dia meng-hapusnya." (Diriwayatkan oleh Muslim no. 3004.Jadi bukanlah memindahkannya kebahan lain selain batu, pelepah kurma itu yg bid'ah tetapi merubah isinya, jadi ini bukanlah contoh bid'ah hasanah.
    Begitu juga dg pencontohan tarawih yg digalakkan kembali oleh umar sebgai cth bid'ah hasanah apakah ia sesuatu yg baru?Umar hy melanjutkan apa yg sdh dicontohkan Rasul. Jadi tdk ada sama sekali contoh bid'ah yg hasanah.karena hadist Rasulullah yg lain jg mnyatakan tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya.
    ditambah:
    Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka ia tertolak

    skrg kita bahas hadist yg mnjadi landasan bid'ah hasanah satu ini:
    Barangsiapa yang memberikan suatu contoh perbuatan baik dalam Islam, maka dia mendapatkan pahala perbuatan tersebut dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi se-dikit pun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mem-berikan suatu contoh perbuatan buruk, maka dia menanggung dosa-nya dan dosa-dosa orang yang melakukannya setelahnya, tanpa mengurangi sesuatu pun dari dosa-dosa mereka.
    contoh berarti ada yg dicontoh yakni Rasul dan tuntunan yg ada dlm Al-Qur'an berarti intinya adalah mengajak orang pada kebaikan akan mendapat pahala yg sama jd jgn dianggap mbuat sesuatu yg baru,jika benar hadist ini dianggap dan dirubah penafsirannya mjd mbuat sesuatu hal yg baru dan blm pernah ada dicthkan sblmnya oleh Rasul dan sahabat, maka mau dikemanakan hadist lain yg juga dianggap shahih silahkan anda pilih dulu hadist mana yg mau dibuang.Wallahu Alam marilah kita ikuti seruan Allah dan RasulNya tanpa menambah & mengurangi karena Syariat sudah sempurna, tgl ilmu dunia yg akan berubah dan bertambah sesuai perkembangan zaman.
    Tidak ada jawaban lain bagi orang yang beriman, apabila mereka diajak kepada Allah dan RasulNya supaya dilakukan hukum di antara mereka, hanya: “Kami dengarkan ajaran itu dan kami patuhi . ” ltulah orang-orang yang menang.An-Nur ayat 51.wslm

    ReplyDelete
  2. Bukannya saya mrasa lebih pintar dan mendahului para imam terdahulu,(saya juga belajar dan berusaha mengumpulkan serta menyinkronkan semua dasar hukum yg ada)saya lebih takut mendahului Allah & RasulNya. Mereka (para imam,ulama)adalah orang-orang yang berjasa yg sudah mengumpulkan dan memilah-milah hadist, shg kita bisa pakai saat ini.Namun kita tentunya juga kita tidak lupa perkataan imam Syafi'i “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.”sungguh mulia dan tawadhu nya beliau semoga yg mengaku bermahzdab beliau jg dapat meniru tawadhu nya

    ReplyDelete
  3. maaf tambahan lagi kullu yg dipercontohkan dalam Qs. Al-Anbiya, 30 itu tidak tepat mengapa anda buang kalimat sebelumnya?silahkan baca satu ayat lengkap
    Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman? (QS. 21:30)
    kullu disini adalah untuk (terbatas) pada langit dan bumi jadi sudah pastilah kullu disini berarti semua yg ada dibumi dan langit ini (tdk termasuk malaikat & Jin) karenaayat ini menceritakan asal usul alam semesta, silahkan tanya pada ahli pakar astronomi semua juga sepakat tersusun atas komponen hidrogen sebagai dasar penyusun air. jadi jgn suka memenggal ayat, mengambil arti sebagian ayat menafsirkan semaunya tanpa melihat ayat lain yg masih berhubungan.
    Begitu juga kulla pada Qs. Al-Kahfi,79 dari tafsirnya saja sudah jelas merampas tiap-tiap perahu, lalu anda sendirikan yg mengartikan kulla disini hanya perahu yang baik?apakah anda raja yg dimaksud dlm ayat tersebut atau ayat tersebut perkataan raja zalim tersebut?kan tidak sama sekali tidak ada hubungan antara penafsiran kulla diayat ini menjadi sebagian dlm arti yg baik. karena itu hanya sebuah harapan atau ilmu hikmah dari nabi khaidir bahwa dgn merusak perahu ini nantinya semoga raja tersebut tdk berminat.jadi tdk merubah arti harfiah kulla didlm ayat menjadi sebagian.Tolong jgn semaunya menafsirkan.Nanti semua ayat bisa disusupi apapun sesuai keinginan untuk membenarkan pendapat.

    ReplyDelete